Sabtu, 24 November 2012

Cinta yang Murni

Oleh : Ari Fauzi Sabani

Kala muktamarmu tak pernah tertuju
Yakinlah kau terkantuk dalam kolokium hidupmu
Kala masalahmu terus berdiversifikasi
Yakinlah langkah hidupmu teralu mandiri

Rezim siapakah yang menguasai hatimu??
Meski kau komat-kamit sampai gigimu menguning kering
Tulangmu merapuh 
Tangan dan kakimu mengecil
Lalu kepala dan perutmu membesar
Semua itu tak menjadi kifarat bagimu
Dan akhirnya kau tinggallah tulang belulang yang tergagahi oleh debu kematian

Lalu apa yang salah?? Siapakah parasitnya??
Sadarlah.........................
Bahwa kau telah menjadi kanibal bagi dirimu sendiri
Cinta dalam jiwamu terkapar dan tak tau arah jalan pulang
Cinta yang murni itu bukan madu yang tak pernah kadaluarsa
Cinta yang murni itu cinta yang selalu kau perbaharui dengan imanmu

#sabdAri

"Menjadi penting belum tentu baik, tapi menjadi baik itu pasti penting" #sabdAri 

"Semakin kau dekat dengan sesuatu hal, maka peluang untuk menjauh terhadap sesuatu itu pun akan semakin besar" #sabdAri 

"Malulah pada nyamuk, meski rupanya buruk, tapi ia mampu membuat banyak orang di dunia bertahan hidup" #sabdAri 

"Hidup itu tentang memberi inspirasi. (No Ari No Happy)" #sabdAri 

"Sensasi paling indah dalam hidup ini adalah ketika kau mencintai dirimu dan menjadi dirimu seutuhnya" #sabdAri 

Minggu, 21 Oktober 2012

“MINGGU PAGI DI AGRICULTURAL UNIVERSITY”



Oleh : Ari Fauzi Sabani

Inilah potret minggu pagi di sekitar kampus pertanian yang paling tersohor di Indonesia. Realita ini menguak dua sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang pertama akan menghantarkan citra IPB sebagai kampus yang memasyarakat karena memberikan kesempatan kepada masyarakat umum untuk menikmati sebagian fasilitas yang ada di kampus seperti Gladiator, sekitaran GWW. Sudut pandang yang kedua datang dari para mahasiswa IPB, sebagian merasa risih dengan banyaknya masyarakat yang berlalu lalang disekitaran kampus. Saya pun mempunyai potret jelek terhadap realita ini, bukan pemakaian tempat yang dipermasalahkan atau saya melarang masyarakat untuk masuk kampus IPB, tapi rasa tanggungjawab masyarakat terhadap pemakaian fasilitas tersebutlah yang sangat saya permasalahkan.

Saya selalu waswas dan riskan ketika hari minggu tiba, hipotesisnya pada hari itu kampus pertanian yang saya cintai ini akan dihiasi oleh sampah-sampah mencolok dengan bau yang menyengat, dan potret remaja yang berpacaran di tempat sepi sekitaran kampus. Dan hipotesis itupun jelas selalu terbukti setiap minggunya. Ini sangat bertolak belakang dengan visi misi IPB yang bercita-cita menjadi “World Class Univesity” yang tentu memperhitungkan aspek kebersihan, dan potret lingkungan serta sosial yang terjadi di kampus.

Apabila kita kaitkan dengan fenomena menjamurnya pamflet dan baliho kampanye para calon presiden dan wakil presiden mahasiswa, maka menurut pandangan saya permasalahan ini perlu diusung oleh para calon tersebut. Begitupun dengan akan segera digulirkannya pemilihan rektor baru Institut Pertanian Bogor, permasalahan ini perlu dijadikan pekerjaan rumah bagi siapa saja yang ingin menjadi rektor. Yang perlu dilakukan adalah pengontrolan dan pengawasan terhadap pemakaian fasilitas serta pembinaan terhadap masyarakat agar sadar dan mampu bertanggungjawab.

Rabu, 17 Oktober 2012

Cendramata dari Kewirausahaan



Oleh : Ari Fauzi Sabani

Menjelang bergulirnya ujian tengah semester tahun akademik 2012/2013, rabu (17/10/2012) beberapa kelompok perkuliahan Q TPB IPB mengikuti studium general matakuliah kewirausahaan. Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh mahasiswa yang berada di kelompok Q dengan tempat dan pembicara yang berbeda-beda untuk setiap kelompoknya. “Kelas kami QO8 kedatangan Ilyas Arief seorang wirausahawan yang berbisnis lele sangkuriang,” tutur Kresna komti kelas QO8.

“Studium general ini merupakan perkuliahan terakhir bagi mahasiswa TPB IPB, saya berharap dengan adanya studium general ini dapat lebih memotivasi dan menginspirasi mahasiswa untuk berwirausaha,” ungkap Dr. Andriyono Kilat Adhi seorang dosen matakuliah Kewirausahaan.

Mengingat matakuliah kewirausahaan tidak menyelenggarakan ujian tengah semester (UTS) sepertihalnya matakuliah yang lain, maka sebagai gantinya setelah mengikuti studium general ini mahasiswa ditugaskan untuk mereview dan meresume hal-hal yang mereka dapatkan dari perkuliahan selama setengah semester ini. “Tugas itu sebagai salahsatu indikator buat saya untuk memberikan nilai selain keaktifan didalam kelas. Dua pekan lalu pun , saya menugaskan mereka untuk observasi lapangan terkait kegiatan kewirausahaan, semoga semua itu menjadi pengalaman ataupun bekal bagi mereka apabila suatu hari nanti mereka   berwirausaha,” tutur Dr. Andriyono.

Beberapa mahasiswa mengungkapkan aspirasi yang postif terkait matakuliah kewirausahaan ini. “Meskipun hanya diselenggarakan selama setengah semester, matakuliah ini benar-benar menginspirasi dan memberikan sesuatu kepada saya, saya bertekad untuk bisa menghasilkan uang sendiri dengan berwirausaha agar tidak terus merepotkan orang tua” jelas Afrian ITP49.

Jiwa wirausaha sepertinya sudah melekat dalam diri mahasiswa TPB IPB berkat diadakannya matakuliah kewirausahaan , hal tersebut dapat dilihat dari antusiasme beberapa mahasiswa yang mulai berwirausaha kecil-kecilan seperti berdagang donat ataupun snack didalam kelas.

Minggu, 14 Oktober 2012

Paradigma Matakuliah "Olahraga & Seni"

Telah menjadi suatu rutinitas saya bangun dan mandi lebih pagi dari hari-hari biasa apabila hari jumat telah tiba, hal itu saya lakukan karena harus mengikuti perkuliahan matakuliah “Olahraga dan Seni” yang dimulai setiap pukul 06.00 WIB. Kala itu (12/10/12) dengan jiwa yang belum terkumpul sempurna saya bergegas untuk pergi ke Gymnasium.
Sejak awal saya kurang antusias terhadap matakuliah ini, karena saya selalu berpikir matakuliah ini sangat tidak penting. Tapi, paradigma itu pun hilang setelah apa yang saya lakukan dan rasakan saat itu. Seperti yang selalu dikatakan oleh dosen olahraga yang bisa saya kategorikan “killer”, bahwa ketika kita akan melakukan olahraga, kita harus melakukan pemanasan terlebih dahulu agar kita tidak mengalami cedera, lalu saya pun melakukan pemanasan itu dengan kecut muka.
   
Dosen itu pun menjelaskan tentang apa yang akan dipelajari hari itu, dengan muka tidak bersemangat saya pun mendengarkan penjelasannya dengan kurang baik, sehingga saya pun tidak begitu mengerti dengan apa yang dijelaskannya. Setelah itu, seluruh mahasiswa disuruh untuk melakukan gerakan sesuai dengan apa yang telah ia jelaskan tadi, karena saya tidak mengerti apa yang ia jelaskan tadi, saya pun hanya mengikut apa yang dilakukan teman-teman saya.
Hal pertama yang saya lakukan yaitu sit up, sebuah gerakan yang dilakukan dengan berbaring diatas lantai dan lutut ditekuk, serta tangan dibelakang kepala, lalu mengangkat vertebra atas dan bawah dari lantai. Gerakan tersebut dilakukan untuk melatih kekuatan otot perut dan pinggul. Gerakan kedua yang saya lakukan adalah push up, gerakan yang dilakukan seperti tengkurap dengan kedua tangan menopang badan lalu mengerakan badan ke atas dan ke bawah dengan tujuan untuk melatih otot bisep dan trisep.
Setelah itu, kita melakukan gerakan back up, gerakan yang dilakukan dalam posisi telungkup lalu tangan disimpan didagu, kemudian mengangkat badan setinggi mungkin. Selain ketiga gerakan tadi, saya disuruh untuk melakukan gerakan knee up, jumping jack, dan gerakan dasar bulutangkis. Keenam gerakan tersebut dilakukan dalam rentan 120 detik untuk setiap gerakan. 
Setelah selesai melakukan gerakan itulah paradigma saya berubah, meskipun saya merasakan kelelahan yang luar biasa sampai-sampai lantai pun becek oleh keringat saya, tapi saya merasakan sensasi kenyamanan tubuh yang luar biasa, susunan tulang-tulang saya seakan tersusun rapih sesuai sendinya masing-masing, dan saya pun merasa lebih bugar dan kuat. 
Dari semua kejadian itu, saya dapat menyimpulkan bahwa diadakannya matakuliah “Olahraga dan Seni”, didasari oleh tujuan untuk membentuk mahasiswa TPB yang berjasmani sehat, kuat dan bugar. Semua itu sangat penting mengingat aktivitas mahasiswa TPB yang cukup padat dan berat, sehingga perlu didukung oleh kondisi jasmani yang memadai. Apabila semua hal itu diabaikan, maka akan berakibat fatal terhadap proses perkuliahan dan pengembangan diri mahasiswa TPB. 

Oleh : Ari Fauzi Sabani

Rabu, 10 Oktober 2012

LISTRIK PADAM, ASRAMA MENGGERAM!





Gangguan aliran listrik atau lebih dikenal dengan nama mati lampu kembali terjadi di lingkungan asrama TPB IPB, Kamis (04/10/2012). Gangguan tersebut terjadi mulai pukul 17.00 WIB, kejadian ini menjadi yang pertama sejak mahasiswa angkatan 49 menempati asrama juni lalu. Menurut informasi, padamnya aliran listrik  ini diakibatkan terjadinya suatu kerusakan/gangguan di sebuah gardu listrik yang terletak di Cibinong.

Para mahasiswa sangat menyesalkan kejadian ini karena sangat berdampak terhadap rutinitas mereka, terutama dalam hal pengerjaan tugas-tugas kuliah yang cukup banyak. Selain itu, Terputusnya aliran listrik pun berdampak terhadap pasokan air di asrama yang notabenenya merupakan kebutuhan yang sangat pokok bagi para mahasiswa. “Kejadian ini cukup membuat sengsara, mandi gak bisa, tugas belum dikerjain, bahkan untuk wudhu pun gak bisa,” tutur Yusuf (PTN49) salahseorang penghuni asrama putra C1.

Sebagian mahasiswa pun berinisiatif pergi ke masjid Alhurriyah untuk mencari air dan penerangan. Namun, sebagian lagi ada yang memutuskan untuk tetap berada di asrama dalam kegelapan sambil bergurau antar teman. Saat kejadian itu, ada suatu hal kreatif yang dilakukan beberapa mahasiswa dengan memanfaatkan fenomena mati lampu sebagai peluang untuk mencari uang, beberapa mahasiswa itu berkeliling menjual lilin dan korek api ke lorong-lorong dan kamar-kamar.

“Saya berharap ada genset di asrama putra, supaya kalau mati lampu lagi kita gak kesusahan,” tutur Imam (ITP49).

Akhirnya, listrik kembali menyala sekitar pukul 21.30 WIB, sontak para mahasiswa pun berteriak kegirangan.

Oleh : Ari Fauzi Sabani



Senin, 08 Oktober 2012

PROBLEMATIKA MAKANAN SEHAT DAN BERGIZI DI LINGKUNGAN IPB


PROBLEMATIKA MAKANAN SEHAT DAN BERGIZI DI LINGKUNGAN IPB

Kesehatan merupakan sebuah keharusan yang dibutuhkan oleh manusia, kesehatan sangat bersinkronisasi dengan  apa yang manusia masukan kedalam mulutnya. Tak heran apabila semua orang menganggap bahwa makanan minuman sehat dan bergizi adalah hak asasi yang harus didapatkan. Namun, sungguh sangat ironi apabila kita melihat suatu pendeskripsian tentang makanan dan minuman sehat dalam ruang lingkup kawasan Institut Pertanian Bogor. Keberadaan kampus IPB ini memang telah membangkitkan gairah ekonomi yang luar biasa serta mampu menciptakan suatu simbiosis mutualisme yang sangat kuat diantara masyarakat. Kedai makanan, warteg, rumah makan, dan kantin merupakan salahsatu indikasi pertumbuhan perekonomian masyarakat sebagai hasil dari suatu hubungan yang saling menguntungkan itu. Sebagai kampus yang berdomisilikan manusia berjenis mahasiswa dari berbagai pelosok negeri, maka para mahasiswa ini sangat membutuhkan suatu perangkat yang mampu mengatasi nafsu makan mereka yang setiap harinya tak bisa dihentikan.
Keberadaan warung-warung makan ini sendiri telah menempatkan diri pada salahsatu segi kehidupan penyokong aktivitas para mahasiswa. Namun, perannya saat ini dalam memenuhi kebutuhan para mahasiswa belum sempurna dan belum sesuai dengan yang diharapkan. Aktivitas mahasiswa IPB yang sangat menguras tenaga dan pikiran menuntut mereka harus mendapatkan asupan makanan yang sehat dan bergizi agar mereka dapat bertahan dalam menempuh pendidikan di IPB. Pada faktanya, kebanyakan penyedia makanan di sekitaran kampus hanya mengusung aspek estetika cita rasa dan belum memperhatikan aspek penting lainnya sepeti gizi dari makanan yang dijual, estetika tempat, dan kebersihan makanan maupun tempatnya.
Hal itu menjadi tugas responsi realita yang harus diemban oleh penjual makanan, dan pihak pengelola dari IPB sendiri. Pihak pengelola dari IPB harus mampu mensosialisasikan standar yang sesuai serta mengontrol proses jual beli makanan itu sendiri dalam kaitannya terhadap pengimplementasian standar yang telah ditetapkan. Permasalahan ini menjadi sesuatu yang sangat penting dan urgen karena menyangkut kelangsungan hidup para mahasiswa.Oleh karena itu, tindakan nyata sebagai pemecahan dari permasalahan ini perlu dilakukan segera dan tidak bisa ditunda-tunda.      

Oleh : Ari Fauzi Sabani