Minggu, 24 Januari 2016
Selasa, 27 Oktober 2015
HIMITEPA Menginvasi BARA
Oleh : Ari Fauzi Sabani
Sudah
sejak lama BARA (red; Babakan Raya) dinobatkan sebagai pusat kulinernya IPB,
hal ini menjadikannya sebagai pusat perhatian berbagai pihak terutama
mahasiswa. Namun, kesan semrawut dan kotor seringkali terlontar dari pengunjung
yang baru pertama kali menyambangi
daerah tersebut. Berbagai isu tidak menyenangkan telah lama berkembang di
sela-sela percakapan singkat ataupun diskusi formal yang alot. Tidak bisa
dipungkiri BARA telah menjadi objek vital perekonomian dengan kompleksitas
permasalahannya yang sampai saat ini masih dicarikan solusinya, Bersama
Direktorat Pengembangan Bisnis IPB, HIMITEPA mencoba meletakkan pondasi untuk
memicu keterlibatan semua pihak dalam penyelesaian permasalahan ini.
Rangkaian
hari ke-2 dari Canteen Development
Program yang dicanangkan oleh tim Ksatria Peduli Pangan (Kapangan) aliansi
sahabat pedagang ini diawali dengan proses survey, inspeksi, dan pengambilan
sampel terhadap beberapa pedagang di BARA. Sampel yang diambil diantaranya mie
basah, tahu, bakso, es batu, dan saos yang selanjutnya akan dilakukan pengujian
terhadap sampel. “Meskipun fasilitas dan tempat seadanya, saya selalu berusaha
menyajikan makanan yang saya jual terjamin kualitas dan kebersihannya. Saya
selalu membersihkan kios saya minimal dua kali sehari” Tutur pak Amran pedagang
Mie Aceh Darussalam BARA. Luaran yang diharapkan dari program ini adalah
terciptanya kondisi yang nyaman dan bersih, serta kualitas makanan yang
terjamin keamanannya. Pedagang dihimbau untuk terus berkomitmen menjaga higienitas
dan sanitasi cara pengolahan produknya dan juga lingkungan kios tempat ia
berjualan. Hal ini tentu akan berefek positif bagi pedagang untuk meningkatkan
minat konsumen membeli makananan/minuman ditempatnya. Konsumen pun diharapkan
mampu berperan aktif terhadap keberhasilan program ini, salahsatunya dengan tidak
membuang sampah sembarangan dan menjaga kebersihan di sekitar BARA.
Cikarawang Kecipratan Hibah Bina Desa lewat HIMITEPA & Mandjarica
Oleh : Ari Fauzi Sabani
Sabtu (10/10) menjadi penanda
dimulainya program hibah bina desa yang diusung Ksatria Peduli Pangan aliansi
Sahabat Desa. Program yang diselenggarakan di kp. carang pulang ini melibatkan
dua kelompok yang berbeda yaitu kelompok wanita tani (KWT) Melati dan Dahlia.
Kegiatan ini diikuti dengan sangat antusias dari peserta yang berjumlah 25
orang dan 2 diantaranya adalah petani muda jambu Kristal. Pelatihan pembuatan
sari buah, permen jelly, dan dodol jambu Kristal menjadi tema yang diusung pada
inisiasi program. Produk-produk tersebut nantinya akan diperkenalkan dengan
merek dagang MANDJARICA. “Adanya pelatihan ini sangat bermanfaat untuk
memperkaya wawasan dan kreatifitas petani dan anggota KWT, terlebih produk olahan ini terhitung baru dari segi
bahan baku jambu kristal. Saya berharap program ini terus berlanjut sampai
produk terkomersilkan dengan baik dan menjadi produk unggulan desa cikarawang”
tutur pak Ahmad Bastari selaku Ketua GAPOKTAN desa Cikarawang.
Desa Cikarawang merupakan salah
satu desa di kecamatan Dramaga, Bogor yang terkenal sebagai sentra penghasil
jambu kristal. Hasil panen jambu kristal memiliki kualitas yang berbeda-beda
yang dipengaruhi penampilan fisik buah, seperti warna dan kemulusan kulit buah.
Kegiatan budidaya jambu kristal menjadikan hubungan dan ikatan
sosial antar masyarakat semakin kuat melalui kegiatan gotong royong dan
penjaringan tenaga kerja pertanian. Namun, permasalahan subsistem off-farm seringkali
dihadapi oleh para petani, masalah yang dihadapi ialah rendahnya harga jual dan
variasi kualitas ketika musim panen datang. Hal ini menjadi landasan bagi
HIMITEPA untuk mengembangkan produk turunan/olahan dari jambu kristal melalui program pemberdayaan masyarakat desa
cikarawang.
Program
dilakukan dalam bentuk pendampingan desa tani melalui proses pengembangan produk
baru dan pengkomersialisasiannya. Produk yang dikembangkan adalah sari buah,
permen, dan dodol dengan tetap berpegang pada prinsip penggunaan potensi lokal
desa berupa sumber daya alam yang terdapat dalam jumlah banyak di Desa
Cikarawang yaitu jambu kristal, sehingga dapat meningkatkan nilai tambahnya.
Setelah warga desa yang terlibat dapat menguasai cara pembuatan produk tersebut,
selanjutnya akan dilakukan simulasi produksi skala kecil yang disertai dengan
pelatihan dan pembimbingan komerisialisasi berupa publikasi dan penjualan
secara langsung dan online.
Selasa, 20 Oktober 2015
Langganan:
Postingan (Atom)







